DARI PENGEROK BAN BEKAS KE RAJA KOPI: UTANG Rp137 JUTA YANG MENGUBAH KAPAL API
Bayangkan seorang pemuda dengan tangan belepotan karet ban bekas. Ia mengerok ban usang di perusahaan vulkanisir selama setahun, lalu bekerja sebagai kernet bemo. Namanya Soedomo Mergonoto. Puluhan tahun kemudian, merek keluarganya menyeberang ke puluhan negara.
Soedomo lahir di Surabaya pada 3 Juni 1950, dalam keluarga pedagang kopi yang pas-pasan. Ayahnya, Go Soe Loet, merintis usaha itu dengan menjajakan kopi keliling. Sejak 1967, Soedomo ikut berjuang dengan sepeda ontel, menyusuri kampung hingga Pelabuhan Tanjung Perak. Usaha itu begitu kecil sampai ia harus mencari penghasilan tambahan di tumpukan ban bekas dan di atas bemo. Namun di kepalanya, kopi tidak pernah pergi. Pada 1979, ia mendirikan PT Santos Jaya Abadi, perusahaan yang kelak menaungi Kapal Api.
Lalu datang iklan televisi bersama pelawak Paimo. Permintaan melonjak, tetapi mesin tidak sanggup mengejar. Soedomo harus memilih antara bermain aman atau mempertaruhkan segalanya.
Pada 1982, ia memilih mendatangkan mesin roasting otomatis dari Jerman seharga Rp137 juta. Mesin lokal sejenis hanya sekitar Rp1,7 juta, selisih hampir 80 kali lipat. Uangnya pun bukan miliknya, melainkan utang bank. Keluarga cemas, lingkungan mencibir, dan ia dijuluki arek sempel, orang nekat. Tetapi Soedomo tidak sedang berjudi. Ia menghitung bahwa mesin itu, yang disebut mampu mengolah sekitar 500 kilogram kopi per jam, akan memangkas biaya dan melipatgandakan kapasitas, sehingga modal bisa cepat kembali.
Taruhan itu terbayar. Pada 1985, hanya sekitar tiga tahun setelah mesin itu datang, Kapal Api sudah menyeberang lautan, mengekspor kopi ke Arab Saudi, Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. Pabriknya terus bertambah: Sepanjang dan Sukodono di Sidoarjo, Karawang di Jawa Barat, lalu Semarang yang diresmikan pada Agustus 2023. Di peresmian itulah, tiga kontainer Good Day dilepas menuju Timur Tengah, dengan target 500 kontainer ekspor pada tahun yang sama.
Skalanya pun membesar. Dalam satu laporan Kontan, ekspansi senilai Rp269 miliar disiapkan untuk pabrik berkapasitas 16.000 ton kopi per bulan. Dari satu mesin 500 kilogram per jam, Kapal Api tumbuh menjadi jaringan pabrik raksasa.
Kini, menurut satu media, produknya telah hadir di 68 negara, dari Malaysia, Singapura, dan Brunei, hingga Tiongkok, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Pada akhir 2025, Kapal Api membuka pabrik pertamanya di luar negeri, Kapal Api Wazaran di Jeddah, Arab Saudi, hasil kongsi dengan pengusaha Kholid Bawazier, untuk menggarap Timur Tengah dan Afrika Utara. Perusahaan sendiri mengklaim menguasai sekitar 60 persen pasar kopi olahan lokal.
Berapa kekayaan Soedomo? Tidak ada angka resmi. Perusahaannya tertutup, dan media hanya memperkirakan "triliunan rupiah". Yang bisa dihitung justru ini: sejak 1982, ia mengubah satu mesin impor menjadi kerajaan kopi lintas benua.
Soedomo tidak berutang untuk membeli mesin. Ia berutang untuk membeli kapasitas, tepat ketika peluang sedang terbuka. Banyak bisnis tumbang bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena tidak siap ketika peluang akhirnya datang.
Dari pengerok ban bekas dan kernet bemo, lahirlah seorang raja kopi.

0 Comments